The Power of Love



Bulan Februari lalu di seluruh dunia banyak orang memperingati Valentine’s Day, mulai dari anak-anak sekolah, anak remaja dan khususnya anak-anak muda hingga orang dewasa merayakan hari kasih sayang ini. Di sisi lain masih ada pertanyaan dari sebagian orang Kristen, apakah orang Kristen perlu merayakan hari Valentine di gereja? Karena berdasarkan latar belakang sejarah Valentine’s Day memang sama sekali tidak berkaitan dengan pengajaran atau peristiwa di dalam Alkitab, selain itu terdapat beberapa versi cerita yang berbeda-beda mengenai lahirnya hari Valentine ini.  Namun perayaan hari Valentine terus berkembang di berbagai Negara khususunya di dalam budaya kehidupan anak-anak muda di seluruh dunia. Tidak sedikit gereja yang secara khusus menggunakan konteks hari Valentine ini sebagai tema dalam ibadah-ibadah gereja di persekutuan (kebaktian) kaum muda bahkan di dalam acara ibadah umum. Lalu apa signifikansi perayaan hari Valentine ini jika bukan bagian dari pengajaran Alkitab? Memang tidak ada signifikansi yang sangat kuat untuk merayakan hari Valentine di gereja, namun ada satu peristiwa indah yang berkaitan dengan penerapan kasih melalui seseorang yang bernama Valentine yang telah sangat mengesankan bagi dunia. Maka ketika hari Valentine dirayakan dalam konteks ibadah gereja tentu bukan untuk merayakan kasih manusia semata, namun pada kebenaran tentang kasih terbesar, kepada pemilik kasih dan pemberi kasih bagi seluruh umat manusia yaitu Allah: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). Satu hal lain yang sangat menarik untuk dipikirkan berkaitan dengan fenomena Valentine’s Day adalah bahwa hari kasih sayang ini dirayakan oleh berbagai bangsa dan dari berbagai latar belakang agama di dunia. Fenomena apa yang dapat kita lihat dari peristiwa ini? Kita dapat melihat adanya suatu kehausan dan kebutuhan yang sangat sangat besar dalam diri banyak orang untuk memiliki dan mengekspresikan kasih sayang dari dan kepada orang-orang yang mereka dikasihi.
What is Love?
Berbicara mengenai kasih itu sendiri, masih banyak orang yang bertanya-tanya mengenai apa itu kasih? Apakah betul semua tindakan yang baik selalu lahir dari motif kasih? Mungkin banyak orang berpikir bahwa jika orang mau melakukan sesuatu yang agung untuk orang lain atau untuk banyak orang pasti orang itu melakukannya oleh karena kasih. Termasuk Rhonda Byrne pengarang buku best seller “the Secret” dalam buku keduanya yang berjudul ‘The Power’ menggambarkan semua tindakan manusia dalam menciptakan karya-karya besar secara umum ia gambarkan sebagai hasil tindakan kasih. Ia mengatakan bahwa tidak mungkin orang-orang melakukan penelitian-penelitian, penemuan-penemuan dan penciptaan karya-karya yang besar tanpa kasih, mereka semua pasti melakukan itu karena cinta. Namun Alkitab berbicara berbeda mengenai konsep kasih ini, Rasul Paulus menegaskan bahwa tindakan-tindakan besar dan dengan skill terhebat dan dengan pengorbanan terbesar sekalipun belum tentu dilakukan dalam kasih. Paulus menuliskan dalam kitab Korintus: “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. 13:2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. 13:3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.” (1 Korintus 13:1-3). Dalam ayat-ayat ini Paulus memberikan gambaran yang sangat jelas antara hadir atau tidaknya unsur kasih dalam tind`kan-tindakan dan kemampuan-kemampuan luar biasa kemampuan supranatural yang tidak dimiliki manusia pada umumnya. Pertama, Paulus menggambarkan seseorang dengan kemampuan berbahasa atau menguasai semua bahasa manusia sekaligus dapat berbicara dengan bahasa malaikat; kedua Paulus menggambarkan keadaan sesorang dengan kemampuan mengetahui segala rahasia dengan memiliki seluruh pengetahuan yang sangat mengagumkan dengan memiliki segala rahasia di dunia ini; ketiga, Paulus menggambarkan seseorang yang memiliki iman yang sempurnya yang bahkan sanggup ‘memerintahkan’ gunung untuk berpindah tempat, suatu kedigjayaan yang luar biasa jika seseorang memiliki iman seperti ini; keempat, Paulus menggambarkan sifat kebaikan seseorang yang sangat mulia yaitu kerelaan untuk membagi-bagikan milik berharganya kepada  orang lain, termasuk kerelaan memberikan nyawanya dalam satu komitmen tertentu untuk sebuah peristiwa atau kepentingan banyak orang. Namun, dalam keseluruhan penggambaran di atas Rasus Paulus menegaskan bahwa dengan segala kehebatan skill atau talenta apa pun dan dengan tindakan apa pun jika tanpa kasih dan bukan karena dimotivasi oleh kasih maka semua itu adalah kesia-siaan semata. Dengan kata lain Paulus juga menegaskan bahwa sebuah tindakan luar biasa tidak selalu dilakukan berdasarkan kasih dan  dapat dilakukan tanpa motif kasih.
Paulus melanjutkan penjelasannya mengenai kasih: ‘Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 13:5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. 13:6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. 13:7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:4-7). Banyak orang yang menggambarkan kasih secara abstrak, namun Paulus menjelaskan definisi kasih sebagai sesuatu yang sangat paktis dan sederhana. Sekalipun demikian bukan berarti mudah untuk mempraktekkan kasih itu dalam kehidupan sehari-hari. Paulus menggambarkan mengenai ciri-ciri orang yang memiliki kasih dalam beberapa karakteristik yang terlihat dari sikap, kata-kata dan  perbuatannya. Pertama Paulus meneyebutkan bahwa orang yang mengasihi itu adalah orang yang sabar, kesabaran yang terlihat dalam berbagai aspek hidup seperti yaitu sabar dalam menghadapi orang lain, sabar menanggung penderitaan atau kesulitan hidup. Kedua kasih itu bersifat murah hati, orang  yang memiliki kasih akan senang membantu orang lain, senang mengulurkan dan memberikan pertolongan. Selanjutnya disebutkan bahwa kasih itu tidak cemburu, tidak mengingini atau iri pada apa yang dimiliki orang lain, misalnya harta kekayaan, kecantikan fisik, ketrampilan, dan sebagainya. Orang yang memiliki kasih itu adalah orang yang tidak memegahkan diri atau tidak sombong. Selanjutnya Paulus mengatakan bahwa orang yang memiliki kasih itu tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Orang yang tidak pemarah berarti memiliki penguasaan diri yang baik, dan memiliki kualitas hati yang baik, pasti unsur kebaikan dan kelemahlembutan ada pada orang itu. Tidak menyimpan kesalahan orang lain berarti mengampuni orang lain yang berbuat salah, dan membuka pintu pertumbuhan jiwa yang sehat bagi dirinya dan bagi orang lain. Kasih itu juga ditegaskan sebagai sifat yang mencintai kebenaran dan keadilan, orang yang memiliki cinta pasti membenci ketidakadilan dan perbuatan-perbuatan jahat. Ia rela memperjuangkan dan menyuarakan suara kebenaran jika menemukan ketidakdilan. Selanjutnya Paulus menjelaskan bahwa orang yang memiliki cinta kasih adalah orang yang sanggup menjaga hal-hal yang bersifat rahasia, bukan tukang gosip, dan orang yang mengasihi sanggup melihat hidup dalam pesfektif yang benar, sanggup melihat tujuan-tujuan yang baik yang diinginkan Allah untuk diperjuangkan dan dihidupi. Orang yang memiliki kasih adalah orang yang memiliki pengharapan yang  besar, tidak mudah frustrasi, tidak mudah menyerah, sanggup menerima segala sesuatu yang terjadi dengan hati lapang dan dalam persfektif yang benar dalam iman kepada Allah.
Finalisasi kasih terletak pada ketaatan seseorang kepada perintah Allah: “Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.” (II Yohanes  1:6). Kasih itu kekal adanya, karena kasih itu berasal dari Allah, bukan berasal dari diri manusia. Manusia pada dirinya sendiri tidak memiliki modal cukup untuk mengasihi dengan kualitas kasih sejati (agape): “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (I Yohanes  4:7-8). Tanpa kehadiran Allah dalam diri seseorang, sampai kapan pun ia tidak akan sanggup mencintai dengan sebenarnya. Kemampuan mengasihi sangat bergantung pada proses menundukkan diri di hadapan Allah, mentaati Firman-Nya. Kasih memiliki kekuatan dan peran yang sangat besar dalam kehidupan manusia, dan tanpa kasih semua kesuksesan dan keberhasilan manusia akan sia-sia dan akan sangat hambar. Marilah kita hidup dalam kasih dan terus melatih diri untuk mendasari segala segala yang kita lakukan dalam kasih. Soli Deo Gloria.